Sebuah sambaran petir memindahkan muatan sebesar 15 coulomb ke tanah dalam waktu yang sangat singkat, 0,20 milidetik. Inilah yang membuat petir begitu berbahaya. Berapa kuat arus rata-rata sambaran itu?
Arus = muatan per waktu: I = Q/t = 15 ÷ (0,20 × 10⁻³ s) = 15 ÷ 0,0002 = 75.000 A (75 kA). Bandingkan: arus setrika hanya ~5 A — petir puluhan ribu kali lipat, walau hanya sekejap.
Jebakan: A lupa mengubah milidetik ke detik (memakai 0,20 s). D salah membaca waktu sebagai 2,0 ms. C justru mengalikan Q × t. E salah pangkat sepuluh.
Refleksi: Ubahlah satuan ke SI (detik) sebelum menghitung. Kesalahan 10⁻³ mengubah jawaban ribuan kali lipat.
Bahaya sengatan listrik ditentukan oleh arus yang mengalir melewati tubuh, dan arus itu bergantung pada hambatan tubuh. Perhatikan dua data berikut pada tegangan jala-jala 220 V:
| Kondisi kulit | Hambatan | I = V/R |
|---|---|---|
| Kering | 100.000 Ω | 2,2 mA |
| Basah | 1.000 Ω | 220 mA |
| Arus lewat tubuh | Dampak |
|---|---|
| ~1 mA | mulai terasa |
| ~10 mA | otot kejang, sulit lepas |
| ~100 mA | fibrilasi jantung — fatal |
Tentukan Benar / Salah tiap pernyataan, lalu tekan Periksa.
P1 (Benar). I = V/R = 220 / 100.000 = 0,0022 A = 2,2 mA. Terasa, tetapi di bawah ambang berbahaya.
P2 (Benar). I = 220 / 1.000 = 0,22 A = 220 mA — jauh di atas 100 mA yang bisa memicu fibrilasi. Inilah sebabnya listrik + air sangat berbahaya.
P3 (Salah). Konflik kognitif. Yang melukai tubuh adalah arus, dan arus = V/R. Dengan V tetap, hambatan kulit (kering vs basah) mengubah arus hingga 100 kali lipat — jadi kondisi kulit justru sangat menentukan.
Refleksi: “Tegangan sama, bahaya sama” itu keliru. Selalu tanyakan berapa arus yang benar-benar mengalir lewat tubuh.
Enam sel surya identik dirangkai seri pada satu panel. Dalam cahaya penuh tiap sel dapat memberi arus 5 A. Suatu sore, selembar daun menutupi satu sel sehingga sel itu hanya mampu 1 A.
Pilih semua pernyataan yang benar, lalu tekan Periksa.
A (Benar). Pada rangkaian seri, arus sama di setiap titik — jadi arus keseluruhan tak bisa melebihi sel terlemah (1 A). Satu sel ternaungi mencekik seluruh string.
B (Salah). Miskonsepsi. Kerugiannya jauh lebih besar dari “1 dari 6”: karena efek leher botol seri, keluaran arus turun ~80%, bukan ~17%.
C (Benar). Dioda bypass memberi jalan pintas mengelilingi sel ternaungi — teknologi nyata pada panel surya modern.
D (Benar). Pada paralel, tiap cabang berdiri sendiri; arus total = jumlah cabang, sehingga satu sel lemah hanya menyumbang sedikit tanpa membatasi yang lain.
Refleksi: Dalam rangkaian seri, komponen terlemah menentukan arus semua. Sebutan lain: “efek mata rantai terlemah”.
Pengisi daya cepat USB-C “berunding” dengan HP untuk memilih tegangan. Kabelnya hanya aman dilewati arus hingga 3 A; melebihi itu kabel memanas (rugi I²R). Daya yang dikirim P = V × I.
| Mode | Tegangan | Arus | Daya = V·I |
|---|---|---|---|
| Biasa | 5 V | 3 A | 15 W |
| Cepat | 9 V | 3 A | 27 W |
| Super | 20 V | 3 A | 60 W |
Mengapa pengisi cepat menaikkan tegangan alih-alih terus menambah arus?
Daya P = V·I. Untuk menambah daya, kita bisa menaikkan V atau I. Tetapi panas terbuang di kabel = I²R — bergantung pada kuadrat arus. Maka menaikkan tegangan (arus tetap 3 A) menambah daya dari 15 W → 60 W tanpa menambah panas kabel. Menambah arus justru memanaskan kabel dengan cepat.
Jebakan C: “arus besar = cepat, tanpa panas” — mengabaikan I²R. Inilah alasan teknis kenapa standar cepat memakai 9–20 V.
Refleksi: Daya bisa dinaikkan lewat tegangan; rugi panas ditekan dengan menahan arus tetap rendah. Prinsip yang sama dipakai jaringan SUTET.
Dua elemen pemanas dipasang pada stopkontak 220 V yang sama untuk mendidihkan air yang jumlahnya sama. Daya kalor mengikuti P = V²/R.
| Elemen | Hambatan | Daya = V²/R | Waktu mendidih* |
|---|---|---|---|
| X | 48 Ω | ≈ 1.008 W | ≈ 198 s |
| Y | 24 Ω | ≈ 2.017 W | ≈ 99 s |
*untuk energi yang sama, ~200 kJ.
Tentukan Benar / Salah tiap pernyataan, lalu tekan Periksa.
P1 (Benar). Pada tegangan tetap, P = V²/R. Karena R di penyebut, R lebih kecil → daya lebih besar. Y (24 Ω) ≈ 2.017 W; X (48 Ω) ≈ 1.008 W.
P2 (Salah). Konflik kognitif klasik: “hambatan besar = panas besar”. Pada tegangan tetap, justru sebaliknya — hambatan besar membatasi arus sehingga dayanya kecil dan mendidih lebih lambat.
P3 (Benar). Energi mendidihkan air sama (~200 kJ). Karena t = Energi/P, daya lebih besar → waktu lebih singkat: Y ≈ 99 s vs X ≈ 198 s.
Refleksi: Perhatikan letak R dalam rumus. Pada arus tetap P = I²R (R besar → panas besar), tetapi pada tegangan tetap P = V²/R (R besar → panas kecil). Konteks menentukan.
Sebuah lampu (hambatan tetap 4 Ω) dirangkai seri dengan rheostat (hambatan geser) pada sumber 12 V. Dengan memutar rheostat, terang lampu diatur.
| R rheostat | R total | Arus I = V/R | Lampu |
|---|---|---|---|
| 0 Ω | 4 Ω | 3,0 A | terang |
| 4 Ω | 8 Ω | 1,5 A | sedang |
| 8 Ω | 12 Ω | 1,0 A | redup |
Pilih semua pernyataan yang benar, lalu tekan Periksa.
A (Benar). R total naik → I = V/R turun (3,0 → 1,0 A) → lampu meredup. Sesuai tabel.
B (Benar). Pada seri, tegangan terbagi sebanding hambatan. R rheostat besar → ia “mengambil” bagian tegangan lebih besar, menyisakan sedikit untuk lampu.
C (Benar). Satu jalur seri → arus identik di lampu dan rheostat.
D (Salah). Menambah hambatan justru menghambat, arus mengecil — bukan membesar.
Refleksi: Rheostat memakai dua prinsip seri sekaligus — arus sama & tegangan terbagi. Itulah cara kerja peredup dan pengatur volume lama.
Di bawah suhu kritisnya, sebagian bahan menjadi superkonduktor dengan hambatan R = 0. Kumparan superkonduktor dipakai pada mesin MRI dan kereta maglev. Yang menakjubkan: bila arus sekali dialirkan, ia dapat terus mengalir bertahun-tahun tanpa baterai.
Tentukan Benar / Salah tiap pernyataan, lalu tekan Periksa.
P1 (Benar). Arus melemah karena hambatan mengubah energi jadi panas. Bila R = 0, tak ada yang meredamnya — arus “abadi” mengalir tanpa sumber. Inilah yang menahan medan magnet MRI tetap kuat.
P2 (Benar). P = I²R, dengan R = 0 maka P = 0 — tidak ada energi terbuang sebagai panas. Efisiensi inilah keunggulan utama superkonduktor.
P3 (Salah). Konflik kognitif. Rumus I = V/R berlaku bila ada tegangan V yang mendorong. Pada arus abadi, beda tegangan pada kumparan justru nol, jadi bukan kasus “V ÷ 0”. Besarnya arus ditentukan saat mula-mula dialirkan, bukan oleh V/R.
Refleksi: Rumus punya syarat berlakunya. Menerapkan I = V/R buta ke R = 0 menghasilkan kesimpulan keliru — pahami konteks fisikanya.
Hambatan kawat mengikuti R = ρ·L/A. Seorang teknisi membandingkan empat kawat untuk mencari yang hambatannya paling kecil (paling sedikit rugi daya):
| Kawat | Bahan | ρ (×10⁻⁸ Ωm) | Panjang L | Luas A |
|---|---|---|---|---|
| W1 | Tembaga | 1,7 | 100 m | 2 mm² |
| W2 | Tembaga | 1,7 | 100 m | 4 mm² |
| W3 | Aluminium | 2,8 | 100 m | 4 mm² |
| W4 | Aluminium | 2,8 | 200 m | 4 mm² |
Kawat manakah yang hambatannya paling kecil?
Hitung R = ρ·L/A (ρ dalam ×10⁻⁸, A dalam ×10⁻⁶ m²):
- W1: 1,7·100/2 → 0,85 Ω
- W2: 1,7·100/4 → 0,43 Ω ✓ (terkecil)
- W3: 2,8·100/4 → 0,70 Ω
- W4: 2,8·200/4 → 1,40 Ω
W2 menang: bahannya tembaga (ρ kecil), penampangnya paling lebar, dan tidak terlalu panjang. Ingat: R turun bila penampang lebar, R naik bila kawat panjang.
Refleksi: Tiga faktor bekerja bersamaan (ρ, L, A). Jangan menilai dari satu kolom saja — bandingkan hasil R-nya.
Mobil listrik memakai pengereman regeneratif. Saat menarik gas, baterai mengalirkan arus ke motor untuk menggerakkan roda. Saat mengerem, prosesnya dibalik: motor diputar oleh roda dan berubah menjadi generator.
Pilih semua pernyataan yang benar, lalu tekan Periksa.
A (Benar). Motor dan generator pada dasarnya mesin yang sama; membalik perannya mengubah gerak → listrik.
B (Benar). Arah arus berbalik: kini dari motor ke baterai — mengisi ulang sambil memperlambat mobil.
C (Benar). Pada rem konvensional, energi kinetik habis jadi panas gesekan. Regeneratif menyelamatkan sebagiannya — sebabnya mobil listrik irit di lalu lintas kota.
D (Salah). Tidak ada energi gratis. Yang terjadi hanyalah mengubah energi kinetik yang sudah ada menjadi listrik — sepenuhnya sesuai kekekalan energi (dan sebagian tetap hilang jadi panas).
Refleksi: “Menyelamatkan energi” ≠ “menciptakan energi”. Regeneratif hanya mengalihkan energi ke bentuk yang bisa disimpan.
Sebuah sensor regangan (Rx) dipantau dengan jembatan Wheatstone. Jembatan disebut seimbang ketika galvanometer (G) menunjuk nol — saat itu berlaku R₁/R₂ = R₃/Rx.
Diketahui: R₁ = 100 Ω · R₂ = 200 Ω · R₃ = 150 Ω.
Agar jembatan seimbang, berapa nilai Rx yang harus dicapai sensor?
Syarat seimbang: R₁/R₂ = R₃/Rx. Susun ulang: Rx = R₃ · R₂ / R₁ = 150 · 200 / 100 = 300 Ω.
Jebakan A (75 Ω): membalik perbandingan (memakai R₃·R₁/R₂). Perhatikan pasangan lengan mana yang saling berhadapan pada rumus keseimbangan.
Refleksi: Jembatan Wheatstone mengubah perubahan hambatan (regangan, suhu, tekanan) menjadi sinyal yang mudah diukur — dasar banyak sensor modern. Pada titik seimbang, tak ada arus lewat G sehingga pembacaan sangat peka.
Kuis Interaktif Listrik Dinamis · Fisika SMA Kelas XII — pilih, putuskan, lalu pahami. Belajar seperti seorang saintis.
