Listrik Dinamis dalam Dunia Nyata
Sepuluh persoalan dari rumah, tubuh, kendaraan, dan jaringan listrik — dirancang untuk menguji nalar, bukan hafalan. Baca datanya, olah, lalu putuskan.
Lima opsi, pilih satu jawaban paling tepat.
Empat opsi, jawaban benar boleh lebih dari satu.
Tiga pernyataan, nilai tiap baris Benar / Salah.
Kerjakan dulu secara mandiri, baru buka Pembahasan di tiap soal untuk mengoreksi dan merefleksi cara berpikirmu.
Sebuah stopkontak di dapur dilindungi MCB 6 A pada tegangan jala-jala 220 V. Artinya, total daya yang boleh ditarik dari stopkontak itu terbatas sebelum MCB memutus arus. Perhatikan daftar peralatan berikut:
| Peralatan | Daya | Arus (I = P/V) |
|---|---|---|
| Setrika | 1000 W | 4,5 A |
| Pemanas air | 2200 W | 10,0 A |
| Penanak nasi | 400 W | 1,8 A |
| Kipas angin | 55 W | 0,25 A |
| Lampu LED | 20 W | 0,09 A |
Kombinasi peralatan manakah yang menyebabkan MCB turun (trip) bila dinyalakan bersamaan pada stopkontak itu?
▸ Lihat pembahasan
Batas arus MCB = 6 A, sehingga batas daya = V·I = 220 × 6 = 1320 W. Jumlahkan daya tiap kombinasi lalu bandingkan; atau jumlahkan arusnya:
- A. 1000 + 400 = 1400 W → I = 6,36 A > 6 A ⇒ TRIP ✓
- B. 1000 + 55 + 20 = 1075 W → 4,9 A (aman)
- C. 400 + 55 = 455 W → 2,1 A (aman)
- D. 1000 W → 4,5 A (aman)
- E. 400 + 20 + 55 = 475 W → 2,2 A (aman)
Jebakan opsi B: banyak yang mengira “makin banyak alat yang menyala, makin cepat trip”. Padahal yang menentukan adalah total daya, bukan jumlah alat. Tiga alat pada B justru berdaya kecil.
Refleksi: Apakah kamu menjumlahkan daya, atau tergoda menghitung banyaknya alat? Alat berdaya besar (pemanas, setrika) jauh lebih menentukan.
Seorang murid mengukur arus yang mengalir pada sebuah lampu pijar untuk berbagai nilai tegangan, lalu menggambar grafiknya. Ia terkejut: grafiknya tidak lurus.
Grafik I terhadap V lampu pijar
Makin besar tegangan, filamen makin panas dan berpijar terang. Nilai setiap pernyataan berikut:
▸ Lihat pembahasan
P1 (Salah). “Arus bertambah saat tegangan bertambah” belum berarti ohmik. Syarat ohmik adalah hubungan lurus melewati titik asal. Kurva yang melengkung menunjukkan R berubah — filamen tidak ohmik. Inilah konflik kognitifnya.
P2 (Benar). Filamen logam makin panas → hambatannya naik. Bandingkan R = V/I di titik hijau (redup) dan kuning (terang): di titik terang V jauh lebih besar tetapi I hanya sedikit bertambah, jadi V/I lebih besar.
P3 (Benar). Kemiringan tali busur dari titik asal = I/V = 1/R. Karena R membesar saat V naik, maka 1/R (kemiringan) mengecil — sesuai kurva yang makin landai.
Refleksi: Apakah kamu menyamakan “arus naik” dengan “berlaku Hukum Ohm”? Uji selalu dengan bentuk grafiknya, bukan sekadar arah perubahannya.
Paket baterai sebuah mobil listrik disusun dari sel-sel identik: masing-masing 3,6 V dengan kapasitas 5 Ah. Perancang menyusun 96 sel seri menjadi satu “string”, lalu memasang 4 string secara paralel.
Pilih semua pernyataan yang benar.
▸ Lihat pembahasan
A (Benar). Seri → tegangan dijumlah: 96 × 3,6 V = 345,6 V.
B (Salah). Miskonsepsi klasik. Susunan paralel tidak menambah tegangan — tegangan paket tetap ≈ 345,6 V. Yang bertambah adalah arus/kapasitas.
C (Benar). Paralel → kapasitas dijumlah: 4 × 5 Ah = 20 Ah. Muatan tersimpan lebih banyak ⇒ jarak tempuh lebih jauh.
D (Benar). Dalam satu string (seri), satu sel putus memutus seluruh jalur string itu. Namun string lain yang paralel tetap menyediakan jalur — inilah keunggulan redundansi paralel.
Refleksi: Bedakan dengan tegas — seri menumpuk tegangan, paralel menumpuk kapasitas/arus. Tukar keduanya dan seluruh analisis runtuh.
Seekor burung hinggap dengan kedua kaki pada kawat tegangan tinggi yang sama — dan sama sekali tidak tersengat. Namun jika seseorang di tanah menyentuh kawat itu, ia bisa tersengat hebat.
Penjelasan yang paling tepat mengapa burung itu aman adalah…
▸ Lihat pembahasan
Arus mengalir bila ada beda potensial. Kedua kaki burung menempel pada kawat yang sama dengan jarak sangat dekat, sehingga beda potensial antar-kaki ≈ 0 → arus lewat tubuh ≈ 0. Manusia tersengat karena menyentuh kawat sambil terhubung ke tanah, menciptakan beda potensial besar.
Mengapa opsi lain menggoda:
- B — tubuh burung bukan isolator; ia menghantar, hanya saja tak ada dorongan tegangan.
- C — miskonsepsi “arus hanya lewat jalur terkecil”. Arus terbagi ke semua jalur; sedikit tetap bisa lewat burung jika ada ΔV. Kunci sebenarnya: ΔV ≈ 0.
- D & E — ukuran/berat tubuh tidak menentukan; yang menentukan beda potensial.
Refleksi: Selalu tanyakan “di antara dua titik mana ada beda potensial?” sebelum menyimpulkan ada-tidaknya arus.
Sebuah pembangkit menyalurkan daya 100 kW melalui kawat yang total hambatannya 4 Ω. Insinyur membandingkan dua pilihan tegangan transmisi:
| Tegangan kirim | Arus I = P/V | Rugi daya I²R | % hilang |
|---|---|---|---|
| 1.000 V | 100 A | 40.000 W | 40 % |
| 20.000 V | 5 A | 100 W | 0,1 % |
Nilai tiap pernyataan berikut (Benar / Salah).
▸ Lihat pembahasan
P1 (Benar). I = P/V. Dengan P tetap, V naik ⇒ I turun. Dari tabel: 100 A → 5 A.
P2 (Salah). Justru sebaliknya. Rugi daya = I²R, dan I = P/V, sehingga rugi daya ∝ 1/V². Tegangan tinggi → arus kecil → rugi daya jauh lebih kecil. Inilah konflik kognitifnya: banyak yang mengira “tegangan tinggi = rugi besar”.
P3 (Benar). 40.000 W dari 100.000 W = 40 %; 100 W dari 100.000 W = 0,1 %. Itulah sebabnya listrik dikirim pada tegangan sangat tinggi (SUTET) lalu diturunkan trafo sebelum masuk rumah.
Refleksi: Perhatikan pangkat pada rumus. Karena rugi bergantung pada I² (bukan V), sedikit menaikkan V memberi penghematan yang besar.
Seuntai lampu hias lama terdiri atas 20 lampu identik yang dirangkai seri dan dihubungkan ke sumber 220 V. Suatu hari seluruh untaian tiba-tiba padam, padahal sakelar menyala.
Pilih semua pernyataan yang benar.
▸ Lihat pembahasan
A (Benar). Pada rangkaian seri, tegangan sumber terbagi rata pada lampu identik: 220 V ÷ 20 = 11 V per lampu.
B (Benar). Satu jalur; satu filamen putus memutus seluruh arus ⇒ semua padam. Inilah kelemahan rangkaian seri.
C (Benar). Pada paralel, tiap lampu punya jalur sendiri; satu putus tak memutus yang lain — sebabnya lampu rumah dipasang paralel.
D (Salah). Miskonsepsi “arus habis terpakai di sepanjang jalur”. Pada rangkaian seri, arus sama besar di setiap titik — lampu ke-1 dan ke-20 dilalui arus identik.
Refleksi: Arus bukan “bahan bakar yang berkurang” saat melewati lampu. Yang berkurang di tiap komponen adalah energi (tegangan), bukan arus.
Sebuah baterai senter tampak “lemah” saat menyalakan lampu berdaya besar. Untuk menyelidikinya, murid mengukur tegangan jepit (tegangan pada kutub baterai) untuk berbagai kuat arus, lalu memplot grafiknya:
Grafik tegangan jepit V terhadap arus I berupa garis lurus menurun. Hubungannya: V = ε − I·r dengan ε = GGL dan r = hambatan dalam.
Dari grafik, nilai GGL (ε) dan hambatan dalam (r) baterai adalah…
▸ Lihat pembahasan
Langkah 1 — GGL. Saat I = 0 (tak ada arus, tak ada rugi di dalam), V = ε. Dari grafik, titik potong sumbu-V = 1,5 V ⇒ ε = 1,5 V.
Langkah 2 — hambatan dalam. r = −kemiringan = (ε − V)/I = (1,5 − 1,1)/2,0 = 0,4/2,0 = 0,2 Ω.
Jebakan:
- B — mengira tegangan saat berbeban (1,1 V) sebagai GGL. GGL dibaca saat I = 0.
- C — memakai r = V/I = 1,5/2,0. Itu keliru; r berasal dari kemiringan, bukan titik tunggal.
- D — memakai 1,1/2,0. Sama kelirunya.
Refleksi: Inilah alasan baterai “drop” saat beban berat — makin besar I, makin besar rugi I·r di dalam, sehingga tegangan jepit turun.
Sensor suhu pada mesin mobil memakai termistor NTC — hambatannya turun ketika suhu naik. Termistor diberi tegangan tetap 5 V, dan arus yang mengalir dibaca komputer mobil sebagai isyarat suhu. Data kalibrasinya:
| Suhu mesin | Hambatan termistor | Arus (I = V/R) |
|---|---|---|
| 20 °C (dingin) | 2500 Ω | 2,0 mA |
| 50 °C | 800 Ω | 6,25 mA |
| 90 °C (panas kerja) | 200 Ω | 25 mA |
Nilai tiap pernyataan berikut (Benar / Salah).
▸ Lihat pembahasan
P1 (Benar). NTC = Negative Temperature Coefficient. Dari tabel: 2500 Ω → 200 Ω saat suhu naik.
P2 (Benar). I = V/R pada V tetap: R mengecil ⇒ I membesar. 2,0 mA → 25 mA. Perubahan arus inilah yang “dibaca” sebagai suhu.
P3 (Salah). Konflik kognitif. Meski kita memakai rumus I = V/R untuk tiap titik, penghantar ohmik mensyaratkan R tetap (grafik I–V lurus melewati titik asal pada suhu tetap). Hambatan termistor berubah-ubah ⇒ tidak ohmik.
Refleksi: “Bisa dihitung dengan V/R” tidak sama dengan “ohmik”. Rumus V/R mendefinisikan R di satu keadaan; ohmik menuntut R itu konstan.
Seorang pendaki membawa panel surya kecil. Tiap panel bertegangan 6 V dan mampu memberi arus hingga 2 A di bawah matahari penuh. Ia ingin mengisi aki 12 V.
Pilih semua pernyataan yang benar.
▸ Lihat pembahasan
A (Benar). Seri menjumlah tegangan: 6 + 6 = 12 V. Cocok untuk aki 12 V.
B (Salah). Paralel tidak menambah tegangan — tetap 6 V. Ini tak cukup untuk aki 12 V.
C (Benar). Paralel menjumlah arus: 2 + 2 = 4 A, pada tegangan tetap 6 V.
D (Benar). Gabungan seri-paralel: tiap pasang seri = 12 V; dua pasang diparalel ⇒ tegangan tetap 12 V, arus 2 + 2 = 4 A. Arus lebih besar ⇒ pengisian lebih cepat.
Refleksi: Untuk memenuhi tegangan target, pakai seri; untuk menambah arus/kecepatan isi, tambah cabang paralel. Perancang nyata menggabungkan keduanya.
Sebuah instalasi surya rumahan bekerja pada 48 V dan menyalurkan arus 8 A ke rumah melalui kabel tembaga. Agar peralatan bekerja baik, penurunan tegangan di kabel harus ≤ 5% dari 48 V, yaitu ≤ 2,4 V. Berikut pilihan kabel (makin tebal, makin mahal):
| Penampang kabel | Hambatan total | Drop V = I·R | Biaya |
|---|---|---|---|
| 1,5 mm² | 0,90 Ω | 7,2 V | termurah |
| 2,5 mm² | 0,54 Ω | 4,3 V | murah |
| 4 mm² | 0,34 Ω | 2,7 V | mahal |
| 6 mm² | 0,22 Ω | 1,8 V | termahal |
Kabel manakah yang paling tepat dipilih — memenuhi syarat penurunan tegangan sekaligus sehemat mungkin?
▸ Lihat pembahasan
Syarat: drop = I·R ≤ 2,4 V. Bandingkan kolom drop pada tabel:
- 1,5 mm² → 7,2 V — gagal
- 2,5 mm² → 4,3 V — gagal
- 4 mm² → 2,7 V — gagal (masih di atas 2,4 V)
- 6 mm² → 1,8 V ✓ — memenuhi
Hanya 6 mm² yang lolos, sehingga sekaligus menjadi pilihan paling hemat di antara yang memenuhi syarat.
Jebakan opsi C: 2,7 V “terasa dekat” dengan 2,4 V, tetapi tetap melebihi batas. Merancang menuntut ketegasan pada kriteria, bukan pembulatan yang menguntungkan.
Refleksi: Keputusan rekayasa selalu menimbang dua hal — memenuhi syarat teknis dan efisien biaya. Kabel lebih tebal memang lebih mahal, tetapi kabel yang gagal syarat justru merugikan.
| No | Tipe | Level | Kunci | Miskonsepsi yang diuji |
|---|---|---|---|---|
| 01 | PG Sederhana | C4 | A | Jumlah alat ≠ total daya |
| 02 | PG Kompleks | C5 | S · B · B | “Arus naik” dikira ohmik |
| 03 | MCMA | C5 | A · C · D | Paralel dikira menaikkan tegangan |
| 04 | PG Sederhana | C4 | A | “Arus hanya jalur terkecil” / tubuh isolator |
| 05 | PG Kompleks | C5 | B · S · B | Rugi daya dikira ∝ V (padahal ∝ I²) |
| 06 | MCMA | C4 | A · B · C | Arus dikira “berkurang” sepanjang seri |
| 07 | PG Sederhana | C5 | A | r dari titik tunggal, bukan kemiringan |
| 08 | PG Kompleks | C4 | B · B · S | “Bisa dihitung V/R” dikira ohmik |
| 09 | MCMA | C5 | A · C · D | Paralel dikira menaikkan tegangan |
| 10 | PG Sederhana | C6 | D | “Mendekati batas” dianggap lolos |
Bank Soal Listrik Dinamis · Fisika SMA Kelas XII — soal kontekstual berbasis penalaran, konflik kognitif, dan multi-representasi.
